- Dalil-dalil wajibnya mengikuti
salaf.
Mengikuti manhaj salaf bukanlah suatu hal yang
mustahab (bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mengapa),
tapi mengikuti jejak mereka dalam segala bidang baik aqidah, ibadah, dakwah,
jihad, muamalah, akhlak dan lainlain adalah suatu kewajiban bagi yang
menginginkan hidayah dan keselamatan didunia dan diakhirat.
1-
Allah ta'ala berfirman :
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَ دَّ
لَهُـمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ
الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100) "
Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang besar. " (QS.At-Taubah : 100)
Didalam ayat ini Allah memuji
orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan
di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti 3 Al-Lajnah Ad-daaimah
lil buhust al-ilmiyah no.1361. 4 Lihat ta'liq Syaikh Hamd At-Tuweijiri terhadap
kitab Aqidah Hamawiyah hal.203 5 Aqidatusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
As-Salafiyah hal.195. mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih
melainkan hanya dengan mengikuti mereka.
2-
Allah ta'ala berfirman :
وَمَنْ
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ
غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ
مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115) وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ
مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ
لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ
نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115) " Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. " (QS.An-Nisa' : 115) lihat
penjelasan Al-Qolsyaani tentang ayat ini diatas.
3-
Allah ta'ala berfirman :
فَإِنْ
ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ
فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا
هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ
اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(137) " Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman
kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling,
sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan
memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS.Al-Baqoroh : 137)
Allah menyebutkan dalam ayat ini
bahwa hidayah itu hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat t. Hal ini juga dikatakan
oleh Ibnul Qoyyim v dalam kitabnya Madaarijus saalikin 1/72-73 ketika
menjelaskan apa yang dimaksud dengan shirotol mustaqiim dalam surat Al-Fatihah,
beliau berkata : "Setiap yang lebih tahu tentang kebenaran dan yang lebih
mengikuti kebenaran maka dialah yang lebih berhak mendapatkan shirotol
mustaqim. Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah r lebih berhak dengan hal
ini dari pada Rofidhoh…Oleh Karena itulah para salaf mentafsirkan shirotol
mustaqim dengan Abu Bakar dan Umar serta para sahabat Rasulullah r, dan tafsir mereka inilah
yang benar."
4-
Rasulullah r
bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah t
:
عَلَيكُم
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهدِيِينَ الرَاشِدِينَ, تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيهَا
بِالنَوَاجِذِ Artinya :
"Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin,
pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian" (HSR.Abu Dawud,
Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)
5-
Rasulullah r
bersabda :
تَفَرَّقَت
اليَهُودُ عَلَى إِحدَى وَسَبعِينَ
فِرقَةً أَوثِنتَينِ وَسَبعِينَ فِرقَةً , وَالنَصَارَى مِثلَ ذَلِكَ, وَتَفَرَّقَت
أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ
فِرقَةً) وَفِي رِوَايَةٍ (إِنَّ
بَنِي إِسرَائِيلَ تَفَرَّقَت عَلَى ثِنتَينِ وَسَبعِينَ
مِلَّةً, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَـبعِينَ
مِلَّةً, كُلُّهُم فِي النَارِ إِلاَّ
مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوا : وَمَن هِيَ يَا
رَسُولَ االلهِ قَالَ : (مَا
أَنَا عَلَيهِ وَأَصحَابِي)
Artinya : "Orang-orang Yahudi
terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orangorang Nashrani seperti itu juga.
Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan" didalam riwayat lain
disebutkan : "Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan
umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu. Para
sahabat bertanya : siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah ? beliau menjawab
: (Yang mengikuti aku dan para sahabatku)." (HR.Tirmidzi dengan sanad yang
hasan)
6-
Rasulullah r
bersabda :
اقتَدُوا
بِاللذَينِ مِن بَعدِي : أَبِي
بَكر وعُمَرَ Artinya :
"Ikutilah jejak dua orang sesudahku : Abu Bakar dan Umar"
(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan selainnya).
7-
Abdullah bin Mas'ud t seorang sahabat Rasulullah r berkata :
"Barangsiapa yang ingin mencari suri
tauladan yang baik maka jadikan yang telah meninggal sebagai suri tauladan,
karena yang masih hidup tidak bisa dijamin selamat dari fitnah. Mereka adalah
para sahabat Muhammad r.
Mereka adalah semulia-mulianya umat ini, yang paling baik hatinya, yang paling
mendalam ilmunya, yang paling sedikit berlebih-lebihan. Mereka adalah
sekelompok orang yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya serta untuk
menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah jasa-jasa mereka dan ikuti jejak mereka
serta berpegang teguhlah dengan akhlak serta agama mereka karena mereka berada
diatas jalan yang lurus".6
8-
Imam Al-'Auza'I berkata :
"Bersabarlah dirimu diatas sunnah,
berhentilah sebagaimana mereka berhenti, dan katakanlah seperti apa yang mereka
katakan serta cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush
sholeh".7
9- Imam ahlu sunnah wal jama'ah Ahmad bin Hambal
v berkata didalam awal kitabnya ushulus sunnah : "Termasuk prinsip aqidah
kita adalah berpegang teguh dengan metode para sahabat Rasulullah r serta mengikuti jejak
mereka". 10- Ibnu Abil 'Izzi v berkata : "Mengikuti para sahabat
adalah petunjuk sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan".8 -
Bolehkah kita memakai istilah Salafi atau Salafiyah ? 6 Syarah Aqidah Thohawiyah
2/546 oleh Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi. 7 Syarhu ushul I'tiqod ahlis sunnah wal
jama'ah 1/154 oleh Al-Lalika'i 8 Syarah Aqidah Thohawiyah 2/244. Allah I memerintahkan kita untuk
bertanya kepada para ahli ilmu/ulama jika kita tidak mengetahui suatu permasalahan,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ
كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ(7) "Maka tanyakanlah olehmu
kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui".
(QS.Al-Anbiya' : 7) - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : "Tidak
tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri
kepadanya9 serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal
tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar".
10 - Imam Adz-Dzahabi v berkata : "Yang dibutuhkan oleh seorang
Al-Hafidz (ahli hadits) adalah ketakwaan, kecerdasan, kepandaian dalam bahasa
arab dan nahwu, kesucian hati, pemalu serta menjadi Salafi….".
11 - Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz v pernah ditanya :
Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang menamakan dirinya Salafi dan
Atsari, apakah in termasuk memuji diri ? Beliau menjawab : "Apabila dia
benar-benar Atsari atau Salafi maka tidak mengapa. Hal ini seperti yang pernah
dikatakan oleh para salaf dahulu : Fulan Salafi, fulan Atsari. Ini termasuk pujian
yang harus dan wajib".
12 - Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin v berkata : "Ahlu
sunnah wal jama'ah adalah para salaf sampai generasi terakhir. Barangsiapa yang
berada diatas jalannya Nabi r
dan para sahabatnya maka dialah Salafi".
13 - Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan –hafidzahullahu- berkata :
"Salafiyah adalah meniti jejak salaf dari kalangan sahabat, tabi'in dan
generasi yang utama baik dalam aqidah, pemahaman, dan akhlak. Dan wajib bagi
setiap muslim untuk mengikuti jalan mereka".
14 - Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid –hafidzahullahu- berkata :
"Jadilah engkau sebagai seorang Salafi yang menelusuri jejak salafush
sholeh dari kalangan sahabat t
dan yang mengikuti mereka dengan baik dalam permasalahan agama ini seperti
tauhid, ibadah dan selainnya".
15 - Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali –hafidzahullahu- berkata :
"Salafiyah adalah menisbatkan diri kepada salaf dan ini adalah nisbat
terpuji kepada metode yang benar dan bukan membuat madzhab baru". Beliau
juga berkata : "Salafiyah adalah 9 Maksud menisbatkan tersebut adalah
dengan mengatakan "Salafi", wallahu a'lam. 10 Majmu' fatawa 4/149. 11
Lihat Siyar A'lamin Nubala' 13/380. Syaikh Salim Bin 'Ied Al-Hilali
–hafidzahullahu- berkata dalam kaset ceramah beliau (Syarah ushulus sunnah oleh
Imam Ahmad v bahwa Imam Adz-Dzahabi menyebutkan kata-kata Salafi dalam kitab
beliau tersebut lebih dari 200 kali. 12 Lihat footnote kitab Al-Ajwibah
Al-Mufidah 'an as-ilatil manahij al-jadiidah oleh Syaikh Sholeh AlFauzan
–hafidzahullahu- hal.17. 13 Syarah Aqidah Al-Wasithiyah 1/54. 14 Al-Ajwibah
Al-Mufidah hal.103-104. 15 Hilyah tholibil ilmi hal 28 dengan syarah Syaikh
Al-Utsaimin. Islam yang murni dari percampuran kebudayaan kuno maupun
peninggalan kelompok-kelompok sempalan, yang berdasarkan kepada Al-Qur'an dan
sunnah serta pemahaman salafush sholeh".
16 - Ciri-ciri Salafi sejati :
Setelah dijelaskan diatas wajibnya mengikuti
manhaj salafush sholeh serta disyariatkan/dibolehkannya menamakan diri sebagai
Salafi, maka perlu disebutkan disini ciri-ciri utama seorang yang bisa
dikatakan sebagai Salafi, ahli sunnah wal jama'ah, al-firqotun najiyah dan
thoifah manshuroh :
1-
Menjadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman
hidup dalam segala perkara.
2-
Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para
sahabat terutama dalam masalah aqidah.
3-
Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama
dalam beraqidah.
4-
Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid
ibadah (Seruan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah).
5-
Tidak berdebat kusir dengan ahli bid'ah serta
tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.
6-
Berantusias untuk menjaga persatuan kaum
muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Qur'an dan sunnah sesuai pemahaman
salafush sholeh.
7-
Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah r dalam bidang ibadah,
akhlak dan dalam segala bidang kehidupan hingga merekapun terasing.
8-
Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Qur'an dan
sunnah.
9-
Memerintahkan
kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran.
10-
Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik
dia seorang muslim atau non muslim.
11-
Membedakan antara ketergelinciran ulama ahli
sunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid'ah.
12-
Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama
dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang
baik dan tidak memberontak atau mencaci-maki mereka.
13-
Berdakwah dengan cara hikmah.17
14-
Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama
yang bersumberkan kepada Al-Qur'an dan sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus
meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.
15-
Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah
(membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti
syirik, bid'ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan Tarbiyah
16-
Limadza ikhtartu al-manhaj As-Salafi hal.34.
17-
Diantara makna hikmah adalah meletakkan sesuatu
pada tempatnya. Oleh karena itu dakwah tidak selalu dengan lemah lembut tapi
terkadang harus dengan sikap tegas dan keras, semuanya disesuaikan dengan
keadaan. (Lihat Ad-Dakwah ilallahu oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz v dan Min
ma'alimil manhaj an-nabawi fid dakwah ilallahu oleh Syaikh Muhammad Musa Alu
Nashr). (mendidik umat diatas Islam yang murni terutama dalam bidang tauhid).1
18-
Kesimpulan : 1- Wajib mengikuti pemahaman salaf
dalam beragama. 2- Disyariatkan/dibolehkan menamakan diri Salafi jika memang
memiliki ciri-ciri diatas. 3- Salafiyah bukan kelompok seperti jama'ah tabligh,
ikhwanul muslimin, hizbut tahrir atau yang lainnya yang memiliki pendiri dan
tahun pendirian, tapi Salafiyah hanyalah metode yang berlandaskan kepada
pemahaman salafush sholeh dari kalangan sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in
yang tidak memiliki pemimpin melainkan Rasulullah r 4- Manhaj/metode salaf adalah
benar, adapun individunya bisa salah bisa benar (tidak maksum). 5- Istilah
Salafi bukan hal baru dalam sejarah Islam.
